Parenting
Parenting

Parenting

03
Jan
2020

CARA AGAR ANAK PERCAYA DIRI DALAM MENGIKUTI LOMBA

Mengikutsertakan buah hati dalam berbagai macam lomba tentu sangan boleh, apalagi bila dia tampak percaya diri untuk ambil bagian dalam sebuah perlombaan. Tapi sebelum ikut berlomba ada baiknya orang tua harus lebih dulu mengenali perkembangan jiwa kompetisinya.

Tahap perkembangan emosi si buah hati yang perlu di kembangkan agar anak memiliki jiwa kompetisi yang positif adalah emosi ke akuannya.

Berikut adalah bantuan yang perlu orang tua berikan bagi si buah hati agar dia mampu menyalurkan dan mengelola jiwa kompetitifnya dengan baik terutama saat berlomba.

  1. Pilih – pilih, Cermati terlebih dahulu si buah hati lebih terampil di bidang mana, dengan mengikut sertakan si buah hati yang sesuai dengan kemampuan dan usianya. Dirinya akan merasa enjoy dan percaya diri saat mengikuti lomba.
  2. Beri Gambaran, Ajak si buah hati menyaksikan berbagai acara perlombaan, sambil mengamati suasana sebuah perlombaan orang tua bisa menjelaskan mengenai aturan lomba seperti perlengkapan yang di perlukan, durasi lomba dan lain sebagainya. Pemahaman dasar tentang lomba merupakan bekal yang baik dalam membantu si buah hati mengembangkan mental kompetitifnya.
  3. Anti Ambisius, Berikan Apresiasi berupa dukungan dan pujian yang bisa memberikan semangat agar ia senang mencoba dan terus berusaha. Jelaskan padanya bahwa lomba yang akan diikutinya bertujuan memberikan pengalaman dan melihat kemampuan dirinya sendiri. Hindari memberikan pesan membebankan dan ikut campur saat si buah hati sedang mengikuti lomba.
  4. Tidak Membandingkan, Untuk memacu semangatnya, bangun motivasi si kecil dengan apresiasi dan pengakuan atau upaya terbaiknya. Cara ini jauh lebih efektif dari pada membanding bandingkan dengan anak lain.
  5. Siap Kalah, Terkadang saat menerima kemenangan terasa lebih mudah dan membahagiakan anak di bandingkan menerima kekalahan. Tapi biasanya anak kecil belum mengerti akan hal ini dan cenderung menangis saat kalah dalam perlombaan. Sebaliknya saat menerima kemenangan hal yang paling di takutkan adalah kesombongan untuk itu persiapkan anak agar tidak sombong dan tidak menangis ketika meraih kemenangan maupun kekalahan.

Hargailah usahanya dan dukung agar dia menikmati lomba dengan penuh semangat dan tidak merasa di tuntut untuk menang. Berikan hadiah hiburan saat mengalami kekalahan, jelaskan bahwa orang tua menghargai keberaniannya untuk ikut dalam perlombaan.

Note : Kalah menang itu biasa dalam perlombaan yang paling utama anak berani berjuang, mandiri, percaya diri kami berharap untuk orang tua bisa memahami dan mengenali potensi anak lebih dalam, karena setiap anak terlahir istimewa, unik, dan luar biasa.

Di kutip dari berbagai sumber

03
Jan
2020

PERSIAPKAN ANAK SEBELUM MENGIKUTI LOMBA

Anak sering ikut lomba? Ini yang perlu orang tua lakukan untuk mempersiapkan anak sebelum bertanding.

  1. Dorong dia melakukan latihan yang cukup sesuai jenis kompetisi yang akan di ikuti.
  2. Bekali anak dengan sikap positif dan mental juara, sehingga dia punya semangat yang besar dalam mengikuti kompetisi.
  3. Persiapkan si anak untuk bisa menerima kekalahan. Orang tua perlu memberikan semangat evaluasi dan pelajari lagi, namun disisi lain juga siap belajar dari kesalahan yang dilakukan dan makin memperbaiki diri.
  4. Secara konsisten memperlihatkan dan menyampaikan pada anak agar terus berupaya melakukan yang terbaik.
  5. Yakinkan anak bahwa kita orang tua akan terus mendukungnya walaupun dia kalah nantinya.

11
Apr
2020

MENGENALI GAYA BELAJAR ANAK

*Mengenali Gaya Belajar anak*


Sekarang itu moment nya para emak harus lebih banyak meluangkan waktu mendampingi anak2 belajar dirumah karena kondisi #DirumahAja 


Tapi hampir 3 minggu berjalan...banyak banget yg bersileweran di medsos yg intinya kurang lebih "Guru dirumah lebih galak dibanding Guru disekolah" 


Emak emosi...

Anak setreeess .. 


So, biar ortu dan anak dua2nya ga stress dgn "tuntutan" belajar dirumah ini, apasih kuncinya?


Selain *SABAR* ...

Ada 1 tips lagi niiiiy...

*Orang tua harus mengenali gaya belajar anak*


Dengan mengenali Gaya belajar anak, kita dan anak akan terhindar dari strees, sekaligus proses belajar mengajar akan lebih maksimal penyerapan dan pemahamannya oleh anak .


Jadi...

Menurut ilmu Psicology...ada 3 Gaya Belajar manusia :

1. Visual

2. Auditory

3. Kinestetik


Kita bahas satu persatu ciri2 dan cara pendekatan yg efektif utk cara Belajarnya ya ????


*1. VISUAL*

ciri2 orang /anak yg gaya belajarnya Visual :

* duduk diam memperhatikan guru menjelaskan

* lebih tertarik melihat gambar2 dan mudah mengingat dgn cara melihat langsung

* tidak terganggu dengan suara2 berisik disekelilingnya ,bahkan dia cendrung suka belajar sambil dengerin musik misalnya

* biasanya mereka suka mencatat, catatannya rapi dan lengkap.


Gaya belajar anak Visual ini biasanya paling disenangi oleh ortu dan guru.

Krn mereka memang "daya tangkap" tercepatnya adalah dgn memperhatikan ,membaca dalam hati, serta suka mencatat.


Untuk memaksimalkan belajarnya, salah satu caranya dgn membelikan buku2 yg menarik utk dibaca dan ditulisnya,, atau tontonan ttg ilmu pengetahuan yg dikemas dgn menarik secara visual. 


*2. AUDITORY*

Ciri2nya :

* suka ngomong

* suka banyak bertanya dan menyela kalo pas lagi belajar

* kalo belajar, ga bisa sambil dengar musik krn dia terganggu dgn suara2 dr luar

* lebih suka mendengarkan suara Guru yang keras dan jelas di kelas. Kalo gurunya bersuara pelan, bisa dipastikan dia agak kesulitan menangkap dgn baik pelajaran yg diajarkan..

* tanpa fokus melihat pd yg memgajar, cukup dengerin penjelasan aja, dia bisa menangkap apa yg disampaikan.


Untuk memaksimalkan belajarnya anak Auditory :

* biarkan dia membaca buku dgn suara keras

* kalo perlu, emak aja yg bacain, dia suruh dengerin..pasti akan lbh cepat nempelnya. 

* dia ga akan maksimal memahami pelajaran kl disuruh baca dalam hati

* saat belajar, usahakan banyak ngomong dalam bentuk diskusi atau tanya jawab. 

* jangan belajar didepan TV atau sambil idupin musik atau ditengah keramaian keluarga , dipastikan dia akan terdistrupsi perhatiannya dan jd ga fokus (beda ama anak visual). 


*3. KINESTETIS*

Ciri2nya :

* tidak mudah disuruh duduk diam

* bentar2 berubah posisi

* kl dikelas biasanya sambil belajar suka nyolek2in teman , suka ketuk2 meja, suka tendang2 kursi, suka main2in buku , sering permisi keluar kelas, intinya ga bisa diam dlm waktu yg lama


Untuk memaksimalkan belajar anak Auditory :

* jangan paksa dia duduk diam belajar. Selingi dengan memberikan dia waktu utk bergerak .karena bergerak adalah kebutuhannya dan menyentuh sesuatu adalah cara tercepatnya dalam menyerab sebuah pembelajaran.


* emak jangan terganggu kl pas lagi diminta membaca buku, trus dia baca sambil tangannya tetap muter2 hapusan pinsil atau ketuk2 meja dgn tangan. 

Biarin aja..


Jadiiii...

Itu yaaa 3 Gaya belajar pada manusia .

Masing2 kita /anak kita memiliki 2 perpaduan Gaya belajar.

Contohnya saya ...

Saya gaya belajarnya : *Auditory dan kinestetis* 

(ini adalah perpaduan gaya belajar anak yang paling bikin emak "Ngurut Dada" ???? ) 

Udahlah mulutnya berisik, Ga suka duduk diam pula ...lengkap deeh ???? 


Tapi..kalo kita sdh memahami dan tau trick nya, pasti akan bisa "ditangani" dengan baik


Salah satu cara gampang melihat Gaya Belajar anak kita yg mana bisa seperti ini :


saat kita belikan sebuah mainan "Merakit Robot" ,misalnya.

Perhatikan gimana responnya saat menerima dan mencoba merangkai mainan tersebut .


> *anak Visual* : begitu buka kotaknya, langsung nyari dan buka kertas petunjuk cara merangkainya..membacanya dgn seksama ..lalu berlahan2 sambil mencoba lgsg di rangkai sesuai langkah2 yg tertulis dikertas


> *anak Auditory* : begitu buka kotaknya lgsg ngomong "ini gimana cara ngerangkainya ,bun" 

Begitu kita suruh baca ,dibaca sekilas ,ngomong lagi "aku udh coba gini gitu tapi ga bisa" ...

Trus coba bentar ,ngomel lagi "iiih kok yg ini begini yaa padahal katanya begitu"..."eh kalo yang kuning ini dipasang dimana ya bun?" .... "nah..kepalanya udah beres bun, tapi tangannya ini susah banget .." blaa..blaa..blaa dst.

Intinya sebelum berhasil, bakal nanya dan bersuara terus krn dia males baca petunjuknya


> *Anak KINESTETIS* : 

Begitu buka kotaknya, langsung dibongkar pasang suka2 nya dia, ga penting langsung berhasil bentukannya atau gak...

Yang penting dia sangat menikmati bereksperiment dgn terus mencoba bongkar pasang. 



Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan saat kita mendampingi anak2 belajar dirumah.


Biar emak ga emosi dan anak ga stress.

30
Aug
2020

MENDIDIK SI PENIRU ULUNG DENGAN TEORI ALBERT BANDURA (TEORI BELAJAR SOSIAL-KOGNITIF)

Mendidik Si peniru ulung dengan teori Albert Bandura (Teori Belajar Sosial-Kognitif)


Seorang anak kecil sangat cepat sekali dalam menirukan perilaku ayah ibunya, maka dari itu ayah dan ibu harus ekstra hati-hati dalam bersikap, karena mereka adalah peniru yang sangat mahir. Masa-masa emas seorang nak saat ia berusia 0-3 tahun. Pada usia ini ia cepat merespons apa yang di dengar dan dilihatnya di lingkungan sekitarnya. Pada saat itu otaknya berkembang sangat cepat sehingga informasi apapun akan cepat di serap olehnya, tanpa di filter baik dan buruknya.


Agar si anak dapat meniru ada beberapa tahap yang mempengaruhi, seperti yang di kemukakan dalam teori Albert Bandura, yaitu:


1). Attensional proses (proses memperhatikan), sebelum sesuatu dipelajari sebagai model ia harus memperhatikan dulu.


2). Retensional processes (proses penyimpanan), Informasi berguna yang diperoleh harus di simpan.


3).Behavioral production processes (proses terbentuknya perilaku, proses ini menentukan sejauh mana apa yang telah ia pelajari dapat diterjemahkan dalam perilaku.


Dari beberapa teori di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa, untuk dapat meniru seorang anak perlu mendapat contoh atau menangkap informasi visual. Setelah menerima informasi, kemudian menerjemahkannya menjadi tindakan sendiri. Proses ini merupakan proses berfikir yang tinggi dan rumit. Proses ini juga merupakan aktifitas penting dalam kedekatan dengan ibu.


Anak yang masih kecil tidak menghiraukan bahwa perilaku itu baik atau buruk jika dilakukan, ia belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk, maka ayah dan ibunya harus hati-hati dalam berperilaku karena akan diikuti oleh anaknya.


Akan tetapi menjadi berbeda jika seorang anak yang sudah besar dan ia didik dalam lingkungan keluarga yang baik dan di berikan pendidikan yang baik dari ayah dan ibunya, maka jika dia melihat sesuatu kejadian yang kiranya tidak sesuai dengan apa yang di pelajari maka dia tidak akan meniru perbuatan tersebut, pendidikan dalam keluarga ini menjadi filter sang anak dalam menghadapi suatu keadaan yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.